UTS---Feature

 

Enaknya Makan Bakso Pak H. Bagong 234 di  Wonogiri



 

WONOGIRI--Pada Hari Pahlawan 10 November, tepatnya hari Rabu Saya melanjutkan perjalanan makan bakso untuk ke tiga kalinya. Jika ditanya mengapa bakso, karena musim hujan, yang kedua sedang tidak enak badan, alasan ketiga karena Saya sering melihat Youtube dan Instagram dan yang terakhir adalah Wonogiri surganya bakso. Dimana-mana, baik di Jakarta, Kalimantan, Sumatera, pasti penjual bakso menggunakan embel-embel Wonogiri.  Jadi rasanya rugi besar jika tidak makan bakso di daerahnya langsung. Sebetulnya pada minggu itu, tepatnya mulai hari Senin, 8 November 2021 Saya sedang melaksanakan UTS Semeter Gasal  di Semester 7, bahkan  pada hari Rabu  itu di jam 12.30 atau sesi ke tiga Saya ada ujian untuk Mata Kuliah Sintaksis. Sehingga Saya berpikir  sebelum mengerjakan soal lebih baik mengisi energi agar bisa konsentrasi sambil kulineran.  Karena bertambahnya usia, Saya semakin peduli akan kesehatan dan semakin menyayangi diri sendiri. Oleh karena itu jam 9 pagi, sebelum berangkat beli bakso, Saya menyempatkan diri untuk olahraga melalui Youtube Channel Walk at Home selama   30 menit. Lumayan berkeringat, kemudian  Saya juga menyempatkan diri untuk maskeran selama 15 menit, agar wajah Saya terawat. Selesai maskeran saya langsung mandi dan bersiap-siap untuk berangkat. Waktu tempuh perjalanan dari rumah ke Bakso 234 sekitar 10 menit, Saya berangkat pukul  10.17 WIB   dan tiba ditempat tujuan pukul 10.27 WIB.

Setelah memarkirkan motor, ternyata terlihat sudah ada satu keluarga yang makan ditempat. Saya pikir Saya  adalah orang yang pertama makan.  Mungkin karena Saya terlambat, sehingga Saya keduluan. Menurut pengalaman yang pertama ketika saya datang jam 10.00 WIB, tidak ada pengunjung atau pembeli selain saya. Kemudian, Saya langsung memesan bakso tanpa minuman, karena Saya sudah membawa Tupperware atau air putih dari rumah agar lebih hemat dan sehat.   Disana terdapat pilihan untuk makan dengan cara lesehan atau di meja. Namun saya memilih makan di meja, karena sebelumnya saya makan lesehan.



Di meja sudah tersedia seperti teh  botol sostro, kerupuk udang, makaroni, tahu,  sambel dan teman-temannya. Beberapa saat kemudian,  akhirnya bakso pesanan Saya datang juga. Ketika mendarat di meja, sebetulnya Saya masih takjub, gembira, bingung dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah Saya mampu menghabiskannya? Bayangkan saja, terdapat bakso besar  yang mekar sekali dan tebal juga bakso bulat 3 biji.  Untuk topping nya seperti bakso lainnya di luar sana, ada mie putih dan mie kuning, bawang goreng,  daun bawang, kuahnya bening, dan sayur Tanpa berpikir lama, Saya langsung membubuhi sambel dan kecap.  2 sendok sambel dan kecap secukupnya rasanya  sudah mantap dan nendang, pas bagi saya sebagai orang pecinta cabe. Saya sangat senang sekali makan bakso d isini, karena sambalnya itu yang berbeda, berminyak dan  berwarna merah jika diibaratkan seperti kuah rendang atau bahasa Jawa nya medok. Itulah yang membuat Saya ketagihan.  Oh ya, ketika  baksonya mendarat di meja,  datanglah   gorengan yaitu   bakwan   yang baru diangkat dari wajan. Senang sekali rasanya, makannya  jadi lebih komplit. Saya makan  mulai dari  bakso bulat dulu, lalu mie. Tekstur baksonya lembut, tebal dan penuh daging.

                Ketika saya makan, mulailah satu per satu tempat duduk penuh karena jam perut. Orang-orang tidak hanya pesan bakso, sebetulnya di sini ada  menu ketoprak, mie ayam, miso (mie ayam bakso, ada juga ketupat pakai bakso. Tetapi Saya lihat-lihat dominan orang-orang memesan bakso, karena itu yang menjadi ciri khas. Perlahan namun pasti, ternyata saya sanggup makan baksonya. Kuahnya pada saat itu diberi banyak, jadi Saya ambil bakwan satu dan  tahu  satu. Bakwannya menurut Saya pas, tidak krispi dan tidak pula tebal, sedangkan tahunya isinya tebal seperti spongebob. Atau bahasa anak kuliner vlog adalah ``juicy``.  Selesai makan jam 10.45. Saya tidak tahu apakah itu masuk dalam kategori makan kilat atau bahkan lama. Intinya Saya sangat menikmati sekali.

 Tempat makan Bakso 234 adalah tempat favorit Saya  dan  tempat makan rekomendasi dari Saya bagi teman-teman yang berkeujung ke kota Wonogiri. Harganya 17 ribu rupiah untuk satu mangkok yang bisa memadatkan perut dan jelas rasanya. Menurutnya harga standar. Karena rasanya bisa ditandingkan. Tempatnya pun juga bersih, tidak sempit. Menurut saya, termasuk luas, karena sebetulnya Si pemilik bakso ini menyediakan 3 tempat atau 3 ruko. Ruko pertama untuk jualan jus, ruko ke dua untuk jualan ketoprak  dan ruko ketiga tempat untuk membuat minuman. Jadi sebetulnya bisa duduk di antara ruko tersebut. Lokasi bakso 234 ini di depan pasar Wonogiri. Dan tempat ini juga tidak panas. Di sana sudah ada kipas angin yang cukup besar dan sudah dipasang di dinding. Selain itu rewangnya atau pegawai  ibu-ibu yang melayani  juga ramah dan sopan.  Jika anda tidak sabar menunggu, Saya menyarankan jangan datang di jam 12.00 siang WIB, karena ramai dan penuh.

Sebetulnya bakso Wonogiri menjadi andalan, tetapi yang membedakan Bakso 234 dengan bakso lainnya adalah rasanya dan menggunakan daging asli. Walaupun ada pesaing seperti  Bakso Titoti dan Bakso Lestari, namun bakso 234 adalah juaranya. Bakso lain, menurut Saya lebih  banyak menggunakan tepung daripada daging. Apalagi dimasa pandemi ini omzet menurun, sehingga penjual harus putar otak dengan cara mengurai bahan baku, namun harga sama. Tidak seperti di Bakso 234, rasanya dari zaman dulu sampai sekarang tidak berubah, lebih banyak daging daripada tepung. Kekuranganya mungkin tidak ada tetelan dan di Bakso lestari misalnya, ada daun bawang yang disediakan di meja makan, sehingga kita bisa ambil sepuasnya. 

 







 

 

 

Komentar