FEATURE NEWS - KISAH
Kisah
Tentang Anak Angkat yang Sukses
WANITA yang
biasa dipanggil Iput alias Puji Rahayu ini, rumahnya tak jauh dari tempatku,
bahkan kita satu RT satu RW, berbadan
mungil, berkulit putih langsat, penuh dengan tata krama jawa, penuh dengan
kerendahan hatinya, ketulusannya, kini
sudah memetik manisnya
kebahagiaan dari hasil perjuangannya. Kebahagiaan itu terpancar merona dari raut wajah, canda tawanya menjadi
seorang guru bahasa Jawa berstatus PNS di sekolah negeri, namun
berbanding terbalik dengan anak kandung Mbah To (sapaan ibu angkatnya).
Mbah To di
kampungku terkenal dengan racikan masakannya bernama bakmi Mbah To, wujud makanannya berwarna mie
kuning atau orang lain menyebutnya mie
penthil, namun bedanya dari mie yang lain adalah tekstur, rasa dan ukurannya
berbeda. Menurut saya mie nya jauh lebih nendang. Mbah To menjualnya juga
murah, namun porsinya sedikit. Di sana juga ada tahu tempe bacem sebagai
pelengkapnya. Biasanya dulu, ketika aku masih SD dan SMP setiap minggu pagi, aku, adikku dan bapakku
langsung menuju ke dapur simbah. Dan kami
sekeluarga selalu pesan mie pecel komplit dengan bacemnya. Yang unik adalah aku
melihat sendiri proses memasaknya, ketika Mbah To meracik bumbu, aku cukup
kaget, karena bumbunya sedikit sekali, dimasak menggunakan kayu bakar,
menggunakan tangan yang mungkin tidak higenis namun rasanya enak sekali.
Mbah To adalah
sosok yang dingin, keras kepala, ada yang mengatakan juga kalau Mbah To itu
galak, dan semua anak-anak kecil dikampung pada saat itu tidak berani mendekat kecuali para remaja.
Hal itulah yang dirasakan oleh Iput. Iput yang dulu bercita-cita menjadi
tentara dan mendambakan seorang suami tentara harus rela menerima takdirnya
karena dia mempunyai gigi yang tidak sesuai persyaratan. Namun siapa sangka
justru Tuhan memberikan kebahagiaan yang jauh lebih nikmat. Sekarang dia
sebagai guru PNS dan menikah dengan seorang tentara. Dan terdengar kabar juga
bahwa anaknya yang pertama pun sukses menjadi
PNS di PEMKOT Surakarta. Sekarang Iput tinggal menghitung bulan atas
kelahiran cucunya yang pertama. Sedangkan anak bungsunya tinggal menunggu jodoh
saja.
Sebelum itu
terjadi, keluh kesah selalu Ia rasakan. Pernah
suatu ketika ia merasa tidak melakukan kesalahan, namun tiba-tiba dia
mendengar bunyi ember yang dibanting oleh Mbah To, perasaan kaget itu masih Ia kenang sampai sekarang.
Rasa tidak enak
selalu menghantui dirinya, karena dia tahu bahwa dia hanya anak angkat, yang mana Mbah To sendiri
mempunyai seorang anak laki-laki yang tidak kuliah, beruntung Iput bisa merasakan
bangku kuliah di 3 tempat sekaligus, di antaranya D2 UNS, D3 IKIP SEMARANG dan S1 UNIVET BANTARA
SKH. ketika diwawancarai beliau
mengatakan ``Perjuangan, saya mulai ketika lulus SMA, saya anak ke-4 dari 7
bersaudara, saya dipungut anak oleh Bude (Mbah To), seorang penjual nasi pecel,
penginnya jadi sarjana, tapi terbentur beaya akhirnya masuk D2 Bhs Jawa di UNS
lulus tahun 1987, perjuangan terberat saya saat menempuh jenjang D3, saya bolak balik Semarang sambil bawa bayi usia 25 hari, 1997
lulus. Sarjananya lulus 2010. `` kandas Iput. Begitulah lika-liku kehidupan yang Iput
rasakan, Beliau juga berpesan `` sesusah apa pun kehidupan yang kita alami... kita
harus ikhlas...hidup tetap di jalan``
Betapa kuat hati
dan mental yang dirasakan oleh Iput mendapatkan ibu angkat yang terkenal
galak, namun dia tetap menyayangi dan merawat hingga tua. Dan tetap
unggah-ungguh basa dengan Mbah To. Walau sekarang sudah merasa jauh lebih baik
hidupnya . Ia tidak jumawa, dia tetap
silaturahmi dengan anak kandungnya Mbah To, tetap mengasihi cucu-cucunya mbah To, tetap menjadi orang kecil, bahkan sampai saat ini dia belum atau tidak
mempunyai kendaraan roda empat. Karena dia merasa ada yang lebih penting daripada
mobil yaitu membantu sesama atau tetangga bahkan saudara yang lebih
membutuhkan.
Memoriku selalu
tertancam akan kelembutan, keibuan, yang beliau torehkan kepada anaknya. Ada sikap
beliau yang menurutku bisa menjadi
bekalku ketika menjadi seorang ibu. Di antaranya yaitu sikap beliau yang
bicaranya lembut, dan selalu percaya kepada anak-anaknya, apa pun dan sekecil apa pun
yang sudah anaknya lakukan. Karena menurut saya tak jarang orang tua diluar
sana yang selalu curiga dan kasar kepada anaknya sendiri. Beliau mudah sekali
mengatakan terima kasih dan terkadang meminta maaf kepadaku karena tidak bisa
membantu.
Menurutku tidak
salah jika anaknya juga menyayangi beliau, padahal jika dilihat-lihat anak
beliau yang pertama adalah laki-laki. Yang mana yang kita tahu bahwa kasih
sayang anak laki-laki berbeda dengan sayangnya anak perempuan ke ibu. Anak
laki-lakinya sangat berbakti dan sangat menyantuni ibunya. Mungkin penggambaran air cucuran jatuh ke pelimbahannya terlukis indah di raut wajah mereka.
Komentar
Posting Komentar