UAS JURNALISTIK (STRAIGHT NEWS)

 

Suka Duka  Guru SMP di Wonogiri Saat Mengajar Daring


WONOGIRI-Jumat, 9 Juli 2021 Selama masa pandemi COVID-19 melanda di Indonesia, fenomena yang wajib menjadi sorotan adalah tantangan di dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan, tentu banyak sekali  suka duka yang dialami saat mengajar daring, salah satunya  dialami oleh guru pengampu Bahasa Jawa  bernama Puji Hastuti (54).

Kita semua tahu dan merasakan betapa tersiksanya harus WFO (Work From Home). Namun, siksaan itu lebih dirasakan oleh seorang guru saat mengajar di depan layar laptop, yang mana kita ketahui bersama usia beliau yang sudah menginjak di atas  50 tahun, merupakan usia yang gaptek (gagap teknologi).

Semangat, ketulusan dan  kesabaran  beliau dalam mengajar membuat rasa penasaran saya untuk menggali informasi mengenai suka duka yang beliau rasakan. Menurut beliau ``Suka duka sebagai pendidik di masa pandemi: Sukanya kita tambah melek IT, karena seluruh program pembelajaran menggunakan aplikasi IT, mulai dari kurikulum, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran sampai dengan laporan hasil pembelajaran kepada orang tua peserta didik.  Dukanya  Sangat khawatir akan perkembangan karakter peserta didik selama pandemi, karena tidak bisa memantau secara langsung``,

Ternyata di usia beliau yang ke 54 jalan 55, beliau mampu menjalankan media aplikasi yang saya pribadi sebagai mahasiswi  belum menjajal. Beliau menambahkan bahwa `` Media yang digunakan selama pandemi dalam proses pembelajaran adalah, aplikasi Microsoft Team, Google Formulir, Google Classroom, Zoom,Telegram dan WA Group``

Meskipun, usia  beliau diatas kepala 4, saya pun khawatir akan kondisi kesehatan Ibu Puji tetapi, Beliau mengatakan ``Alhamdulillah kendala kesehatan tidak ada, saya selalu sehat dan tetap semangat``. Saya pun juga  terkejut, ketika mendengar jawaban Bu Puji bahwa beliau tidak stress menghadapi siswa SMP. Beliau melansir ``Alhamdulillah sebagai pendidik saya tidak pernah drop apalagi mengalami strees, semua saya jalani dengan senang hati legawa, ikhlas, sesuai amanah yang saya``.

Berbicara tentang belajar, pasti tidak lepas dari yang namanya kuota Kemdikbud. ``Alhamdulillah kuota dari Kemendikbud sangat membantu pekerjaan saya, meskipun di rumah saya juga menggunakan wifi secara mandiri, saya sangat menghargai dan mengapresiasi Program Kemendikbud di masa pandemi ini`` tutur Bu Puji.

Dibalik guru yang semangat tentu ada siswa yang  malas mengikuti pembelajaran, tidak mengerjakan tugas. Namun, tidak dengan murid  Ibu Puji``Alhamdulillah... masih banyak peserta didik yang antusias mengikuti pembelajaran walaupun melalui Daring, kalaupun ada yang malas mengikuti hanya ada satu dua anak saja, dan ketika ada tindakan pendekatan dari guru mata pelajaran dibantu guru Bimbingan Konseling, mereka akhirnya mau mengikuti pembelajaran.... yaa memang harus sangat sangat sabar... karena kemampuan, karakter dan latar belakang mereka berbeda-beda`` tutur Bu puji.

Setelah malas belajar maka dampaknya akan berujung pada berhenti atau mogok sekolah atau tidak sekolah kembali karena terbentur ekonomi atau yang lebih parah  memutuskan menikah. Tpi tidak dengan sekolah yang beliau ajar``Alhamdulillah selama hampir satu tahun belajar Daring, tidak ada peserta didik yang drop out.`` kata Bu Puji

Selama 1 tahun lebih ini, laporan dan  keluhan  dari orang tua peserta didik  ketika mengikuti pembelajaran daring sudah didengar  oleh pihak sekolah

Bu Puji menjelaskan jika  ``Keluhan Orang tua peserta didik selama ini, beliau merasa tambah pekerjaan, karena harus selalu mengingatkan putra-putrinya untuk mengikuti pembelajaran daring serta mengerjakan tugas-tugas dari para pendidik. Kadang orang tua menjadi guru privat bagi putra-putrinya... dan merasa sangat berat untuk membantu belajar pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris``.

Memang betul perkataan orang bahwa  guru adalah pekerjan yang paling mulia. Karena mencerdaskan anak bangsa, mencetak generasi emas, namun siap sangka jika dibalik perjuangannya pasti kata  menyerah. Menyerah dengan semua kebijakan yang dibuat oleh menteri, tetapi tidak bijak dalam pelaksanaannya. Apalagi menyerah karena  keterampilan IT atau teknologi yang saat ini makin maju, makin cangkin danmenjadi momok seorang guru. Namu tidak dengan Ibu guru dari Wonogiri ini, beliau menambahkan `` Alhamdulillah walaupun saya belajar IT secara otodidak, saya tidak pernah menyerah, saya masih mampu mengikuti perkembangan dibidang IT, meskipun harus tanya sana-sini minta tutorial dari teman-teman yang muda, yang lebih paham seluk beluk IT ibarat pepatah Jawa " Kebo nusu gudel"... tetap semangat belajar untuk maju``.

Pada  akhir wawancara, saya menyempatkn diri untuk bertanya mengenai`` jika diberi kesempatan untuk  berbicara kepada bapak menteri pendidikan  atau (mas Nadim) melalui video conferen atau zoom, lalu beliau dengan siap mengutarakan `` Bila ada kesempatan menyampaikan usul, saran, pendapat kepada Kemendikbud: 1. Pembelajaran daring belum bisa menjangkau seluruh peserta didik di Indonesia, karena wilayahnya sangat luas, dan masih banyak wilayah terpencil yang tidak terjangkau. Mbok Progran Guru Garis Depan (GGD) untuk daerah terpencil, tertinggal terluar diperbatasan, yang pernah diluncurkan Bp. Anies Baswedan dulu dilanjutkan lagi, karena sangat membantu saudara-saudara kita yang tinggal terpencil di perbatasan. Tidak usah membuat program yang muluk-muluk yang hanya bisa dinikmati masyarakat kota, karena seluruh anak usia sekolah di Nusantara ini memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak sesuai Pasal 31 UUD 45.``

 

 


Komentar