Film Tentang Dunia Wartawan

                                     The Post




Film yang berdurasi kurang lebih 2 jam ini yang disutradarai oleh Steven Spielberg  , memulai konfliknya  lewat dokumen hubungan AS-Vietnam 1945-1967 yang mana dokumen tersebut tingkatannya sangat sensitif atau sangat rahasia. Pelaku yang mengambil dokumen tersebut bernama Ellsberg (Dan). Sebenarnya Ell sudah muncul diawal dengan menyamar sebagai tentara pertempuran di Vietnam yang fokusnya  mendokumentasikan perkembangan kegiatan militer Amerika Serikat. Setelah beberapa tahun kemudian tak terlihat batang hidungnya, Ellsberg membocorkan/memprint dokumen tadi  kepada para jurnalis di The New York Times, The Washington Post dan penerbitan Pentagon Papers.

Puncak dari masalah dari film ini adalah pada bagian mempublikasikan berita tersebut atau tidak yang berpusat pada seorang perempuan bernama Katharine atau Ny. Graham. Lebih rincinya lagi, sebetulnya Katharine mendapatkan sebuah warisan  dari keluarganya yaitu berupa  kantor surat kabar bernama The Washington Post.  Perseteruan semakin mencuat ketika The Washington Post dan The New York Times memiliki sumber berita yang sama. Besar kemunglinan yang terjadi  Katharine berada dalam penghinaan terhadap pengadilan. Jika tuntutan diajukan terhadap The New York Times, Katharine dapat menghancurkan warisan. Sebaliknya, jika ia memenangkan tantangan hukum, The Washington Post malah bisa membangun dirinya sebagai lembaga jurnalistik yang penting.  Akhirnya dengan berdebatan 3 orang  melalui sambungan telepon, Katharine memutuskan untuk mempublish.

 Dari sinopsi di atas, film yang bercerita tentang dunia wartawan tersebut dapat dianalisis  berkenanan dengan mutu jurnalisme, yaitu

1.      Sikap profesional

Menurut KBBI V, profesional bersangkutan dengan profesi. Pada bagian awal film  The Post terdapat adegan    di mana para  wartawan berkumpul untuk menunggu dan mewawancarai kedatangan  Pak Sekretaris. Salah satu wartawan yang ditubjuk oleh Beliau bernama Jim bertanya  mengenai  kemampuan  AS dalam perang dengan Vietnam.  

Ben Bagdik, selalu berusaha menelpon Dan (Ellsberg) melalui telepon umum yang masih menggunakan koin di sebrang jalan. Beberapa kali mencoba, akhirnya ben dapat tersambung dengan narasumber yang ia harapkan, walaupun Ben harus menghapalkan nomor telepon yang hanya disebut sekali saja.    

Setelah menjumpai Dan, Ben langsung membawa 2 kotak yang berisi dokumen untuk dibawa ke  rumah Ben Bradlee. Disanalah  beberapa wartawan The Washington Post berkumpul menggali informasi. Mereka semua sangat sibuk, sangat serius, dan tampak tergesa-gesa membaca  lembar demi lembar sebanyak 4000 halaman di lantai  untuk disusun menjadi kepala berita  dalam kurung  waktu 8 jam .

 

2.      Kredibilitas/ fakta

Dalam adegan Ben Bradlee marah, karenakan ia merasa ketinggalan informasi dalam koran terbitan The New York Times mengenai Pentagon Papers. Kemuduian  Ben menyuruh  koleganya untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Hal ini menggambarkan bahwa wartawan harus berpihak pada kebenaran, Ben sebagai jurnalis merasa dibohongi oleh pemerintah. Ia pun mengajak para wartawannya untuk segera membongkar hal yang ditutup-tutupi pemerintah.

3.      Independensi media/jurnalis

Pada saat  di meja kantor  kantor, Ben  Bradlee menerima  telepon dari Asisten Jaksa Agung. Mereka  meminta agar The Washington Post berita tentang  Departemen Pertahanan Nasional Amerika Serikat tidak dilanjutkan. Sikap independen mendorong Ben menolak secara sopan dan tetap mempublikasikan. Tindakan Ben tergolong berani, karena Ben dan Ny. Graham tahu bahwa tindakannya mempertaruhkan keberadaan The Washington Post.

Sumber

Vavan. 2020. `` Penerapan Sembilan Prinsip Jurnalisme dalam Film The Post Karya Sutradara Steven Spielberg’’. Jurnal Ilmu Komunikasi. 7(2): 100-111.

https://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/read/93842/resensi-film-the-post--bagus-tapi-tak-sesuai-dengan-agenda-juri-oscar

 

 

 


 


 

Komentar